Apa itu reksadana? Bagaimana cara membeli atau berinvestasi di reksadana? Apakah reksadana aman? Jika aman, berapa keuntungan yang bisa didapatkan dari reksadana?

Nah, di kesempatan kali ini kami akan menjabarkan jawaban dari seluruh pertanyaan di atas.

Namun, sebelum masuk ke bahasan mengenai reksadana, kami akan menjabarkan sedikit bahasan mengenai pengertian investasi terlebih dahulu.

Karena akan sulit memahami reksadana tanpa mengerti konsep dasar investasi.

Investasi merupakan aktivitas menanamkan modal dengan harapan mendapatkan imbal hasil atau keuntungan.

Investasi bisa dilakukan dengan banyak cara dan salah satu caranya adalah dengan membeli aset atau surat berharga di pasar modal.

Reksadana sendiri merupakan jembatan atau wadah bagi masyarakat umum untuk bisa membeli aset/surat berharga tersebut.

Apa Itu Reksadana?

Berdasarkan UU Pasar Modal No 8 tahun 1995 pasal 1 ayat 27, reksadana adalah suatu wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang selanjutnya diinvestasikan dalam portpolio efek oleh Manajer Investasi (MI) yang sudah mendapat izin dari Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). (Sumber: Wikipedia)

Jika merujuk pada pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa reksadana cenderung berbeda dengan instrumen investasi seperti saham, obligasi, sukuk, dll.

Reksadana bukan merupakan instrumen investasi, melainkan hanya wadah atau fasilitas yang dapat digunakan untuk mendapatkan keuntungan dari berbagai macam instrumen investasi.

Investasi di reksadana cenderung lebih mudah dan lebih aman untuk investor pemula.

Di reksadana uang yang diinvestasikan oleh investor akan dikelola oleh manajer investasi yang telah berpengalaman.

Karenanya, kemungkinan investor untuk rugi dalam jumlah besar atau bahkan kehilangan keseluruhan modal yang dimilikinya cenderung jauh lebih kecil.

Walaupun begitu, reksadana tetap memiliki resiko yang berpotensi membuat dana investasi Anda berkurang.

Jenis Reksadana

cara membeli reksadana

Reksadana dapat dikelompok ke dalam dua jenis, yaitu reksadana terstruktur dan reksadana konvensional.

Di Indonesia sendiri reksadana konvensional cenderung jauh lebih diminati dari reksadana terstruktur.

Beberapa macam reksadana konvensional yang tersedia dan bisa dibeli di Indonesia adalah:

1. Reksadana Pasar Uang

Di jenis reksadana ini, uang investor akan dikelola oleh manajer pengelola dana untuk membeli berbagai macam produk pasar uang seperti deposito, sukuk dan obligasi.

Dibandingkan jenis reksadana lainnya, reksadana ini memiliki tingkat resiko yang relatif paling rendah.

Selain itu, jangka waktunya pun juga cepat, yaitu kurang dari satu tahun. Cocok untuk investor yang ingin berinvestasi jangka pendek.

2. Reksadana Pendapatan Tetap

Sama seperti jenis reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap juga memiliki resiko yang minim.

Bedanya, reksadana ini cenderung memiliki jangka waktu yang cukup lama, yaitu berkisar antara 1-3 tahun.

Jenis aset yang dibeli di reksadana ini didominasi oleh obligasi dan terkadang juga di produk keuangan lainnya yang beresiko minim dan memiliki tingkat keuntungan stabil.

3. Reksadana Saham

Reksadana saham memiliki karakteristik beresiko tinggi namun menawarkan imbal hasil yang tidak kalah tinggi.

Kenapa resiko dan imbal hasilnya tinggi? Karena di reksadana jenis ini, uang akan diinvestasikan ke pasar saham yang notabene nilainya sangat fluktuatif.

Reksana dana jenis ini sangat cocok untuk investor yang agresif.

4. Reksadana Campuran

Sesuai dengan namanya, reksadana campuran merupakan jenis reksadana yang diinvestasikan ke surat berharga yang bermacam-macam (bukan hanya di satu atau dua jenis surat berharga).

Reksadana ini memiliki tingkat resiko dan imbal hasil yang tidak setinggi reksadana saham namun cenderung di atas reksadana pasar uang dan pendapatan tetap.

Bagaimana Cara Membeli Reksadana?

Untuk berinvestasi di reksadana, ada dua jalan yang bisa dilalui oleh investor.

Yang pertama investor dapat membelinya secara langsung ke manager investasi yang mengelola reksadana.

Yang kedua investor dapat membelinya di perusahaan-perusahaan broker atau perusahaan penerbit reksadana.

Saat ini hampir semua bank – bank besar di Indonesia sudah menerbitkan produk reksadana kok. Karenanya, cara paling mudah untuk berinvestasi di reksadana adalah dengan bertanya ke pihak bank tempat Anda menabung.

Beberapa hal yang harus Anda ingat jika ingin berinvestasi melalui reksadana adalah:

  • Kinerja produk reksadana
  • Perusahaan pengelola/penerbit reksadana
  • Jenis reksadana (sesuaikan dengan resiko dan imbal hasil yang Anda inginkan)

Resiko yang Harus Dipahami

Walaupun dikelola oleh manager investasi profesional yang telah berpengalaman, reksadana tetap memiliki resiko.

Beberapa resiko reksadana yang perlu diketahui investor adalah:

1. Returnnya Tidak Pasti

Resiko pertama yang harus dipahami investor sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana adalah reksadana memiliki return yang tidak pasti.

Di tangan manager investasi yang tepat, reksa dana dapat menghasilkan return belasan atau bahkan puluhan persen per tahun.

Sebaliknya, di tangan manager investasi yang kurang berpengalaman, reksa dana dapat membuat uang yang Anda investasikan rugi puluhan persen per tahun.

Walaupun begitu, tingkat resiko terbesar yang harus ditanggung investor biasanya cenderung dibatasi kok.

2. Produk Reksadana Dapat Dibubarkan

Karena satu dan lain hal, produk reksadana dapat dibubarkan baik oleh pemerintah atau pun oleh pihak pengelola reksadana.

Jika pada saat reksana dibubarkan kondisi nilai investasinya sedang turun, maka dapat dipastikan investor akan mengalami kerugian.

3. Resiko Pencairan yang Lambat

Tidak seperti tabungan yang bisa diambil kapan saja, uang yang ditanamkan di reksadana baru bisa diambil paling cepat 3 hari setelah permintaan dari investor.

Terkadang dalam kondisi tertentu waktu pencairan ini juga bisa menjadi lebih lama.

Salah Kaprah Tentang Reksadana

Reksadana Sama Seperti Saham dan Surat Berharga Lainnya

Salah kaprah pertama yang sering terjadi di investor pemula adalah anggapan bahwa reksa dana sama seperti saham dan surat berharga lainnya.

Padahal, seperti yang telah dijelaskan di atas, reksadana merupakan wadah untuk mengumpulkan dana yang nantinya akan dibelikan surat berharga seperti saham, obligasi, sukuk, dan lain sebagainya.

Jadi, reksadana itu bukan surat berharga ya, melainkan hanya wadah atau fasilitas yang digunakan untuk mengumpul dana kelolaan pasar modal.

1. Berharap Pasti Untung

Salah kaprah kedua yang juga banyak terjadi di kalangan investor pemula adalah berharap selalu untung.

Salah kaprah ini terkadang timbul karena kesalahan pihak marketing produk reksadana yang cenderung hanya menekankan pada bagian untung / profitnya saja dan kurang menjelaskan bagian resikonya.

Padahal, selain berpotensi menghasilkan profit, reksa dana juga beresiko menimbulkan kerugian bagi investornya.

2. Membutuhkan Modal Besar

Sebagian masyarakat awam juga beranggapan bahwa untuk bisa berinvestasi melalui produk reksadana mereka membutuhkan modal yang besar.

Satu atau dua dekade yang lalu anggapan seperti ini mungkin memang benar.

Namun tidak untuk sekarang.

Di era sekarang ini, investasi melalui reksadana sudah bisa dimulai dengan modal kurang dari 100 ribu rupiah.

Sangat terjangkau bukan?

Nah, itulah sedikit gambaran mengenai pengertian apa itu reksadana dan bagaimana cara membeli reksadana yang dapat kami bagikan untuk Anda.

Jadi bagaimana? Apakah Anda tertarik untuk mulai berinvestasi melalui produk reksadana?

Sumber gambar : Pexels.com

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Write a Comment

0Shares
0 0