Banyak orang yang penasaran, sebenarnya lebih untung investasi saham atau obligasi sih?

Terus, lebih aman saham atau obligasi?

Jawabannya.. tergantung!!

Tergantung karakteristik dan kemampuan si pengelola dana alias investornya.

Tergantung produk saham dan obligasinya.

Tergantung kondisi perekonomian..

Dan tergantung ke banyak hal lainnya..

Yang pasti.. akan ada suatu kondisi di mana saham lebih menguntungkan dari obligasi..

Dan akan ada suatu kondisi di mana obligasi akan lebih menguntungkan dari saham..

Membingungkan?? Mari kita bahas..

Lebih Untung Investasi Saham atau Obligasi??

Sebelum membahas mana yang lebih untung antara saham dan obligasi, pertama-tama mari kita bahas mekanisme perdagangan kedua produk investasi ini..

Mekanisme Perdagangan Saham

cara membeli saham di bursa efek indonesia (BEI/IDX)

Saham merupakan bukti kepemilikan perusahaan.

Pemegang saham adalah orang yang memiliki perusahaan.

Jika kita membeli saham perusahaan Indofood contohnya, artinya kita adalah pemilik perusahaan Indofood..

Jika perusahaan Indofood meraup keuntungan, kita sebagai pemilik juga akan kebagian keuntungan tersebut.

Sebaliknya, jika perusahaan Indofood mengalami kerugian, maka kita sebagai pemilik otomatis juga harus ikut menanggung kerugian..

Itulah kenapa analisa fundamental perusahaan itu sangat penting..

Tujuannya agar terhindar dari perusahaan-perusahaan kurang bagus yang berisiko mengalami kerugian.

Saham diperdagangkan di bursa saham.

Mekanisme jual belinya berlaku antara dua arah, yaitu antara pembeli dengan penjual dan broker bertindak sebagai perantara.

Saat ini untuk berinvestasi di pasar saham, investor sudah bisa memulainya dengan modal yang relatif terjangkau.

Peluang Untung Saham

Di saham ada dua sumber keuntungan yang bisa didapatkan oleh investor.

1. Dari Deviden

Deviden merupakan hasil keuntungan perusahaan yang dibagikan ke pemegang saham.

Jadi deviden hanya dibayar jika perusahaan meraup keuntungan saja.

Dalam sejumlah kasus, beberapa perusahaan bahkan ada yang tidak membagikan deviden walaupun berhasil meraup keuntungan lho..

Biasanya keuntungannya diputar kembali untuk ekspansi bisnis..

2. Dari Kenaikan Harga Saham

Semakin bagus kinerja perusahaan, semakin besar keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan.

Semakin banyak keuntungan yang didapatkan perusahaan, semakin banyak investor yang ingin ikut ambil bagian di perusahaan tersebut dengan cara membeli sahamnya.

Karena jumlah saham tidak dapat bertambah (kecuali dilakukan stock split), maka kondisi ini secara otomatis akan membuat harga saham terdongkrak naik.

Ketika harga saham terdongkrak naik, otomatis investor yang sudah membeli saham sebelumnya akan mendapat keuntungan dari kenaikan harga tersebut.

Beberapa investor yang sudah berpengalaman bahkan ada yang berhasil membukukan keuntungan mencapai ribuan persen dari kenaikan harga saham dalam kurun waktu beberapa tahun saja lho!

Sangat menggiurkan bukan?

Resiko Investasi Saham

Di dunia investasi, saham dikenal sebagai produk investasi yang sarat akan risiko dan peluang.

Kenapa? Karena pergerakan harganya relatif cukup liar..

Per hari dapat mencapai puluhan atau bahkan ribuan persen (sering terjadi di saham-saham gorengan).

Kondisi ini dapat dianalogikan seperti pedang bermata dua..

Di tangan seorang ahli, pergerakan harga saham yang fluktuatif ini dapat dikonversi menjadi pundi-pundi keuntungan.

Sebaliknya, di tangan orang yang kurang/tidak berpengalaman, kondisi ini kemungkinan besar akan menjadi bencana.

Itulah kenapa pemula cenderung disarankan untuk membeli saham bluechip yang kapitalisasi pasarnya besar.

Karena saham-saham bluechip kecil kemungkinannya digoreng.. jadi pergerakan harganya tidak terlalu liar.

Selain memiliki pergerakan yang liar, pemegang saham juga turut dibayangi risiko likuidasi.

Jika perusahaan bangkrut, sebagai pemilik, pemegang saham akan berada di urutan paling bawah dalam daftar orang yang harus dibayar oleh perusahaan.

Artinya, jika total aset perusahaan yang dilikuidasi ternyata hanya cukup untuk membayar hutang, maka secara otomatis pemilik saham tidak akan mendapatkan apa pun sama sekali, alias sahamnya akan bernilai nol.

Saat terjadi resesi ekonomi, harga saham biasanya akan terpuruk mengikuti kinerja perusahaan (yang normalnya akan terpuruk karena penurunan daya beli masyarakat).

Di situasi-situasi seperti ini peluang untuk mendapatkan keuntungan dari pasar saham (baik dari deviden atau kenaikan harga saham) akan menjadi sangat kecil.

Biasanya, resesi ekonomi adalah masa di mana investor membeli saham sebanyak-banyaknya dari investor yang tidak sabar atau ketakutan karena harga sahamnya terus mengalami penurunan.

Mekanisme Perdagangan Obligasi

lebih untung obligasi atau saham?

Obligasi merupakan bukti surat hutang.

Orang yang memegang obligasi merupakan si pemberi hutang yang berhak mendapatkan bunga dari pihak yang berhutang.

Peluang Keuntungan Obligasi

Mirip seperti saham, investor obligasi juga berpeluang mendapatkan keuntungan dari dua sumber, yaitu dari kenaikan harga obligasi dan dari pembayaran bunga obligasi.

Dibandingkan dengan saham, besaran keuntungan yang mungkin didapatkan dari obligasi memang relatif lebih rendah.

Namun risikonya pun juga jauh lebih rendah, khususnya untuk obligasi yang dijamin oleh pemerintah seperti Surat Utang Negara (SUN).

Kabar baiknya, walaupun rendah, keuntungan di obligasi, terutama obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah cenderung nyaris pasti.

Artinya, cepat atau lambat, keuntungan berupa bunga yang telah disetujui sebelumnya pasti akan didapatkan oleh investor.

Kunci utamanya terletak pada penerbit obligasi. Pastikan penerbit obligasi yang hendak dibeli adalah perusahaan yang baik secara fundamental atau jika ingin yang lebih aman pastikan hanya membeli obligasi pemerintah saja.

Risiko Obligasi

Obligasi setidaknya memiliki tiga risiko, yaitu:

1. Risiko Likuiditas

Tidak seperti saham yang cenderung sangat likuid, kebanyakan produk obligasi agak sukar untuk dijual.

Itulah kenapa pergerakan harga obligasi tidak seliar pergerakan saham..

Karena kurang likuid, maka kurang cocok untuk dijadikan investasi jangka pendek.

2. Risiko Maturitas

Jangka waktu jatuh tempo obligasi di Indonesia biasanya berada di rentang 1 sampai 10 tahun.

Semakin lama jangka waktu jatuh tempo suatu produk obligasi semakin besar pula risiko yang harus ditanggung oleh pemegangnya.

Kenapa?

Karena risiko perusahaan/pihak penerbit obligasi untuk mengalami kebangkrutan dalam kurun waktu tersebut akan menjadi lebih besar.

Itulah kenapa investor sebaiknya hanya membeli obligasi dari pemerintah atau perusahaan yang benar-benar memiliki fundamental bagus saja.

3. Risiko Default

Ini merupakan risiko yang harus ditanggung jika nekat membeli obligasi dari perusahaan yang kurang baik secara fundamental.

Jika perusahaan dilikuidasi, maka obligasi secara otomatis akan mengalami gagal bayar.

Jadi, Lebih Untung Investasi Saham atau Obligasi?

Jawabannya, tetap tergantung. Akan ada masa di mana saham lebih menguntungkan dari obligasi dan akan ada masa di mana obligasi lebih menguntungkan dari saham.

Waktu Di Mana Saham Lebih Menguntungkan dari Obligasi

Dari sudut pandang waktu, saham biasanya akan lebih menguntungkan dari obligasi di masa-masa selepas terjadinya krisis ekonomi.

Normalnya, selepas krisis, harga saham akan mengalami peningkatan secara perlahan mengikuti kinerja perusahaan yang mulai membaik.

Di fase ini, persentase kenaikan harga saham akan jauh lebih tinggi dari persentase bunga obligasi yang notabene tidak bergantung pada kondisi ekonomi.

Saham juga akan lebih menguntungkan dari obligasi saat tingkat inflasi tinggi.

Waktu Di Mana Obligasi Lebih Menguntungkan dari Saham

Obligasi akan lebih menguntungkan dari saham saat harga saham terpuruk alias mengalami fase bearish.

Kondisi ini biasanya terjadi ketika terjadi krisis.

Di lain sisi, obligasi juga akan lebih menguntungkan ketika tingkat inflasi rendah.

Portofolio Terbaik, Kombinasikan Keduanya

Di tangan investor berpengalaman, ke dua instrumen investasi ini justru tidak dijadikan produk substitusi alias saling menggantikan lho..

Baik saham atau obligasi, keduanya sama-sama dibeli dan dikumpulkan menjadi satu portofolio investasi..

Tujuannya untuk meminimalisir risiko..

Benjamin Graham yang notabene merupakan guru investasinya Warren Buffet merekomendasikan investor untuk membagi modalnya menjadi dua bagian, yaitu 50 % di saham dan 50 % lagi di obligasi.

Menurut Benjamin Graham, angka maksimal untuk investasi ke satu instrumen investasi adalah 75 %. Artinya, kalau pun kita sangat tertarik untuk berinvestasi di saham, kita dianjurkan untuk tetap menyisakan 25 % dari total portofolio kita di instrumen obligasi.

Dengan begitu, saat harga saham sedang turun, kita tetap bisa mendapatkan keuntungan dari obligasi yang kita miliki.

Cukup masuk akal bukan?

Nah, jadi sudah bisa disimpulkan kan lebih untung investasi saham atau obligasi? Jadi kira-kira Anda lebih tertarik untuk berinvestasi di mana? Di saham atau obligasi?

Bahan Bacaan : https://www.finansialku.com/cara-membeli-obligasi/

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Write a Comment

0Shares
0 0